(Terpaksa) Belajar Masak

Dilihat dari penampakan saya, pasti semua orang juga tahu kalau saya hobby makan (hobby kok makan..), suka jajan apalagi yang enak – enak. Indonesia definitely surga dunia. Surga budaya, surga pemandangan, dalam bahasan kali ini, surga makanan. Mau apa aja ada, sayur, buah, daging, ikan semua ada, harga murah pula, kurang surga gimana lagi coba….

Saking surganya, saya hampir gak pernah masak. Di Indonesia, saya Cuma pernah masak spaghetti, macaroni skotel, paling banter capcay sayur. Udah, itu aja. Buat cemilan paling bisa Cuma buat risol mayones dan brownies kukus. Selain itu maaf dan jujur kalau saya nggak bisa, dijamin rasanya gak enak. Sooo, buat apa masak masakan yang gak enak bukan? Mubazir, mending beli atau minta dibikinin. Kebetulan punya mamah dan mertua yang jago masak. Surga lagi kan…. 🙂

Naaahhh petualangan dimulai deh nih, begitu pindah Dubai. Tanpa pembantu, tanpa tahu pasar dimana, yang lebih parah tanpa tahu harus masak apa. Dubai itu as you know ya, negara padang pasir yang juga ada pantainya (apasih….). Intinya sayur dan buah disini import semua dari India atau Thailand. Jadi selain harganya mahal, ya nggak semua yang ada di Indonesia juga ada disini, apalagi bumbu – bumbu ajaib model kluwek. Paling banter jahe dan lada lah ya yang umum. Selain itu nih, diDubai tuh Cuma ada 1 pasar sentral yang jual sayur buah serta daging dan ikan. Itupun sejam naik bis dari tempat saya tinggal, dalam keadaan lalu lintas gak macet yah. Jadi kalau mau belanja ya disupermarket. Supermarket disini ukurannya 2 kali Indomaret normal di Indonesia lah, tapi dalemnya lengkap bahkan mereka bikin  homemade bakery, juga ada bagian daging/ayam/ikannya segar. Normalnya harga barang di supermarket lebih mahal 1-5 dirham dibanding harga di hypermarket. Makanya untuk belanja bulanan di hypermarket, untuk sayur mayur harian di supermarket.

Kembali ke petualangan masak – memasak, lama – lama saya jadi mulai (terpaksa) rajin browsing resep dan praktek memasak. Karena….masak iya mau delivery order mulu. Untuk anak – anak, untungnya mereka gampang makan apa aja, dan syukurnya mereka DOYAN sayur. Jadi gampang dong tinggal dimasakin aneka sup atau sayur bayem. Anehnya tapi mereka gak begitu doyan capcay. Tapi lagi nih, menurut saya rasa sup saya masih jauh dari mantap, gemeeees banget deh. Udah hampir setahun masak sup mulu gak pinter – pinter :(.

Untuk suami, enaknya dia gak rewel juga urusan makanan. Istilahnya dibuatin mie goreng juga udah girang. Tapi masa’ mau makan mie goreng mulu. Naaah yang ribet justru saya, yang Indonesian Food minded banget. Pertama, saya belum bisa hidup tanpa nasi, walau sekarang udah bisa berkurang menjadi sehari sekali. Kedua, lidah saya agak susah meng-acquairing rasa masakan yang baru. Maklum ya wong ndeso :). Jadilah saya masih mengimpor cabe keriting dari Indonesia (Iyah! Disini gak ada cabe kriting, adanya cabe bird eye Thailand yang gak enak buat nyambel). Selain cabe saya juga mengimpor krupuk (saya dan anak2 juga gak bisa idup tanpa krupuk).

Seperti yang saya ceritakan di posting sebelumnya, saya sudah bisa masak beberapa masakan Indonesia, walau dengan majang dan lirik2 ipad di dapur. Dan baru – baru ini hasil percobaan masak beberapa kali saya baru bisa  dan sukses praktek bikin rendang padang ala resto sederhana juga marmer cake.Cuma itu ??? iya soalnya saya untuk soal makanan rada perfect, belum puas kalo belum enak dalam ukuran saya. Jadi saya  masih terus mencari dan mencoba sampai hasilnya sesuai standar saya. Kesimpulannya, ada baiknya juga jauh dari comfort zone (“surga”) ala saya dan membuat saya mempelajari banyak hal untuk terus survive dalam hal ini tetap bisa makan enak versi saya 🙂

One thought on “(Terpaksa) Belajar Masak

Leave a Reply