Jalan – jalan ke Sri Lanka

IMG_0062.JPG

Liburan akhir tahun kali ini, kami memutuskan untuk pergi ke Sri Lanka. Kenapa Sri Lanka? Karena suami tersayang pernah tinggal disana waktu SMP, dan saya penasaran kayak apa sih negaranya. Perasaan semangat liburan, dimulai dengan browsing tiket terus mulai nonton vlog orang – orang yang udah pernah ke Sri Lanka. Makin nggak sabar banget, karena liat pemandangannya yang bagus kayak Indonesia, ada pantai dan area puncak yang sejuk. Yang pengen liat bagusnya Sri Lanka, vlog yang saya suka bisa di search : 240 days in Sri Lanka (Feras Awad), FunForLouis, dan satu lagi vlogger Indonesia rachgoddard. Kalau blog : Where is Sharon, dia membahas detail tentang 3 minggu perjalanannya di SL dengan 2 anak.

Oke, udah nggak sabar nih pengen cerita hal seru apa saja yang saya liat dan lakukan di Sri Lanka.

Day 1 – 25 December 2016

Perjalanan ke SL menempuh waktu 4 jam dari Abu Dhabi (AD), dengan dijemput supir dari travel agent yang sudah kami pesan, kami menuju hotel Kingsbury. Airport ke hotel ditempuh selama 1 jam.  Hotelnya terletak di pinggir pantai, juga dekat dengan Dutch Hospital Precinct (Rumah Sakit peninggalan Belanda yang diubah jadi tempat nongkrong kayak di Kemang, ada restoran, toko baju, bahkan tempat spa). Karena kami sampai sudah menjelang malam, jadi nggak bisa pergi jauh – jauh. Ditambah saat itu hari natal, dijalanan penuh ramai orang yang berjalan bersama keluarga (belangkangan saya baru tau kalo dipinggir pantai itu ada pohon natal tertinggi di dunia).

Day 2 – 26 December 2016

Pagi ini kami menuju Nuwara Eliya, area perkebunan teh di puncak pegunungan yang tinggi, kalau pernah baca teh merk Dilmah yang terkenal itu, ya dari Sri Lanka itu asalnya. Perjalanan dari Colombo ke Nuwara Eliya normalnya memakan waktu 6 jam. Di tengah jalan supir mengajak kami mengunjungi museum sekaligus toko perhiasan yang menjual aneka batu khas SL. Kami disuguhi video cara mendapatkan aneka batu berharga tersebut, yang bila menggunakan cara tradisional, memang cukup rumit, makanya harganya lumayan mahal. Setelah itu, supir mengajak ke spice shop. Pikiran saya, Cuma toko biasa yang jual aneka bumbu dapur. Ternyata, kami diajak keliling kebun aneka tumbuhan obat seperti lada, lidah buaya, kayu manis, cengkeh, cendana sampai vanilla. Masing – masing tanaman,  diceritain khasiat dan cara konsumsinya. Ternyata yang dimaksud spice shop itu adalah tumbuhan alami yang diolah jadi produk baik untuk kesehatan atau kecantikan, istilah mereka disebutnya Ayurveda. Setelah keliling kebun, kami diajak ke tokonya. Bilangnya nggak maksa, tapi dia main ambil – ambil aja produk yang menurut dia saya terlihat tertarik, main taro aja di kasir, padahal harga nggak tercantum, dan dia nyerocos terus. Akhirnya saya tanya, berapa total? Ternyata nggak murah, pasti udah jadi komersil banget, tambah lagi pasti supir juga dapet komisi nih. Yaudah, kata suami nggak papa, coba siapa tau bagus.

IMG_9741

Aneka tanaman obat keluarga di Spice Shop

Akhirnya setelah melalui jalanan yang meliuk – liuk panjaaaaaang banget, magrib kami baru sampai di The Grand Hotel. Hotelnya cantik banget, lampu – lampu menghiasi ditambah alunan piano yang syahdu menambah kesan romantis. Sayangnya ada bagian hotel yang tidak ada liftnya, jadi kalo butuh lift, pastikan saat booking minta yang ada akses lift nya.

KRAM2588

The Grand Hotel – Nuwara Eliya

 

Day 3 – 27 December 2016

FKZO0303

Lapis legit special dibawa khusus untuk birthday cake

Pagi yang indah, alhamdulillah birthday tahun ini bisa ada di tempat baru, sengaja bawa lapis legit hadiah bday dari kakak sepupu yang tinggal di Dubai biar gak usah beli cake lagi , hehehe. Dari jendela kamar yang terbuka (iya nggak ada AC di hotel ini, jadi anak – anak tidur pake singlet, jendela dibuka lebar) saya liat hujan turun rintik – rintik, romantis. Tujuan wisata kami hari ini adalah mengunjungi Lake Gregory, Ambewela Farm dan Mlesna Tea Castle.

Lake Gregory

Tiket masuk nggak gratis tapi bisa ditawar. Danau dengan pemandangan bukit – bukit ini menyediakan taman untuk duduk santai, ada playground juga dan kapal bebek untuk killing danau. Kami Cuma foto – foto sebentar aja, karena masih gerimis.

IMG_9817

Gerimis di Lake Gregory

IMG_9783

Ambewela Farm

IMG_9829

Pemandangan di sekeliling farm, sejuuuk

Dari Nuwara Eliya kesini, sekitar 1 jam. Sepanjang jalan pemandangan di kanan kiri bukit – bukit hijau perkebunan teh, sejuuuuk banget. Banyak villa dan hotel – hotel, namun sayangnya rumah warga disepanjang jalan terlihat timpang karena mereka masih hidup amat sederhana. Banyak warga yang masih belum memakai alas kaki, juga sedikit sekali kendaraan Pribadi. Hanya bajaj yang banyak saya lihat terparkir dihalaman rumah. Iya bener bajaj yang roda 3 itu, hehehe. Untuk bepergian, masyarakat mengandalkan bus dan kereta. Iya dipuncak gunung pun ada kereta disini.

IMG_9853

Sapi di Ambewela Farm

Jalanan masih berkabut pagi itu, tiba – tiba dikejauhan terlihat kumpulan sapi – sapi besar yang sedang merumput, anak – anak seneng banget lihatnya. Sayangnya karena berkabut, nggak bisa difoto Cuma keliatan buntelan coklat diantara kabut putih hehehe. Nggak lama, kami pun sampai di Ambewela farm. Kami sempat bingung waktu supir hanya mengantar sampai gerbang masuk, karena dari jauh hanya terlihat 3 bangunan panjang di tengah bukit. Setelah dekat, baru terlihat bangunan seperti Gudang panjang tempat para sapi sedang makan, bangunan lainnya ternyata tenpat pengolahan susu segar, keju dan ada restoran kecilnya. Ada satu hal yang saya ngerasa lucu, saat itu saya pake gamis model syar’I , biasa emak ganjen pengen terlihat kece kalo difoto, tapi jadinya sepanjang jalan, orang – orang jadi ngeliatin saya sambil senyum senyum ngliatin jilbab saya yang panjang terurai. Kali dipikirnya, ini orang ke peternakan aja pake gaun, hahaha maklum cyiiin mau pemotretan di bukit 😀

IMG_9858

Jajan susu segar dan Fish Roll

Mlesna Tea Castle

IMG_9911

Mlesna Tea Castle

IMG_9905

Devon Falls di sebrang Mlesna Tea Castle

Perjalanan dari hotel ke Mlesna Tea Castle juga memakan waktu hampir sejam. Sebenernya nggak semua tempat yang kita kunjungin hasil ajakan si supir merangkap guide ini, karena dari rumah kita juga sudah buat itinerary sendiri tempat – tempat yang mau kita datangin. Nah ditengah jalan, kadang si supir nanya dengan sopan, mau lihat ini nggak misalnya, karena mereka akan dapat tips kalau kita belanja, atau dapat makan gratis kalau di restoran. Mlesna ini hasil pilihan kami sendiri, lokasinya dekat dengan air terjun Devon. Bangunan puri megah dengan teko raksasa menyambut kami. Di dalam ada restoran kecil, toko aneka jenis teh dan mini museum yang sepi karena kami saat kami kesana sudah sore. Mata emak – emak ini langsung melek liat aneka teh dalam kemasan yang cantik – cantik. Ada teh hijau, teh melati, teh sirsak, dll. Selesai borong teh, nggak lupa kami nyicipin aneka minuman teh ditemani mini donat dan éclair, yang surprisingly enak, sampe beli ekstra buat dibungkus buat ngemil di hotel nanti.

IMG_9902

Berpose dulu sebelum kembali ke hotel

IMG_9898

Masih gerimis di luar, enaknya minum teh hangat

Day 4 – 28 December 2016

Pagi ini gerimis masih menyambut kami, rasanya masih pengen tarik selimut tapi kami harus berangkat pagi menuju Bentota beach, yang katanya 6 jam perjalanan lagi turun ke bawah. Oooh noooo….masih kebayang mualnya saat perjalanan Colombo – Nuwara Eliya, sekarang harus siap mual lagi. Oh iya, sarapan di Grand Hotel ini, semua enak. Banyak banget varian makanan, buahnya juga seger – seger kayak di Indonesia. Saya yang jarang makan papaya di UAE (mehong boo, dibanding papaya di Indonesia), puas makan papaya selama di Srilanka ini.

IMG_9775

Sarapan di The Grand Hotel

Udawalawe National Park

IMG_9941

Jeep khusus untuk safari

Di Srilanka ada beberapa National Park yang modelnya kita naik jeep besar per family/group dibawa ke padang luas dimana hewan dilepas dialam bebas, bukan dikandang atau pagar seperti di Taman Safari, walau jumlah hewan yang bisa kita temui pun terbatas. Sengaja kami memilih Udawalawe karena searah dengan tujuan kami ke Bentota Beach.

DTZA9441

Burung Merak di alam bebas

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Nuwara Eliya, kami pun sampai di Udawalawe. Kami pindah ke Jeep besar yang khusus disediakan oleh pihak taman, ditemani oleh seorang pemandu yang sudah berpengalaman. Mata si pemandu ini sudah terlatih banget, bisa melihat adanya monyet dari jarak jauh walau yang keliatan di awal hanya ujung buntutnya, jeep pun beberapa kali mundur karena tiba – tiba pemandu bilang dia melihat hewan. Canggih! Hewan yang bisa kami temui di taman seperti, aneka burung termasuk burung merak, monyet, buaya dan gajah.

KQGW2786

Gajah sedang berusaha meraih tangkai pohon untuk makan siangnya

Keseluruhan, pengalaman melihat langsung hewan liar di alam bebas dengan pemandangan yang indah cukup berkesan buat saya dan anak – anak 🙂

IMG_0683

Rombongan peserta safari

XKSY4081

Family picture di depan jeep yang membawa kami keliling taman

IMG_0688

Udawalawe National Park

 

Day 5 – 29 December 2016

Avani Resort – Bentota Beach

Walaupun sudah booking lebih dari sebulan sebelumnya, kebanyakan hotel di area Bentota Beach sudah penuh. Saya pun sampai berapa kali mencoba beberapa situs selain booking.com dan Agoda untuk bisa stay di Avani, karena selain reviewnya yang cukup bagus di Tripadvisor, akses langsungnya ke pantai bikin saya makin pengen nginep disini.

Kamarnya luas, pemandangan depan kamar pun langsung ke kolam renang dan deretan pohon kelapa di pinggir pantai, duh bikin betah banget buat santai – santai.

IMG_9998

View depan kamar. masya Allah

Hari kedua disini, kami mulai dengan mengunjungi tempat penangkaran penyu. Ini adalah kali pertama kami mengunjungi TPP, baru tau kalo ada beberapa jenis penyu dan dibutuhkan perawatan yang berbeda untuk aneka jenis penyu. Baru tau juga kalo ternyata penyu itu berat! 😀

IMG_0682

Walaupun terlihat kecil ternyata berat loh.

Kemudian kami menuju Madu River untuk mencoba naik perahu menyusuri sungai Madu. Sebenernya saya takut naik perahu, apalagi liat sungainya luwaaaaas banget. Tapi karena penasaran, yaudahlah coba aja. Setelah tawar menawar, kami pun diajak naik perahu, dimulai dari menyusuri hutan bakau, lanjut menyusuri sungai, terlihat ada gubuk ditengah sungai yang ternyata jualan es kelapa. Tapi kami nggak minat, karena kelapa di Srilanka jenisnya kelapa kuning yang menurut saya nggak seger dan manis dibanding kelapa hijau. Kemudian kami menepi, untuk coba fish massage. Aduduh geli bangeeeet, secara ikannya gede – gede, kebayang kan mulut ikan yang mangap – mangap dikaki kita. Trus lanjut lagi kita diajak ke tempat pengolahan kayu manis secara tradisional, setelah diberi sedikit penjelasan tentang khasiat kayu manis, kami ditawari untuk membeli kayu manis dan minyaknya. Ditengah perjalanan pulang, hujanpun turun, seru bangeeet ngerasain ujan – ujanan ditengah sungai. Walau basah kuyup, tapi hati bahagia 🙂

IMG_0009

IMG_0687

Darren & papa-nya 🙂

IMG_0686

Membelah sungai Madu

IMG_0010

Fish massage dengan ikan mas koki, geliiii!

Day 6 – 30 December 2016

Hari terakhir di bentota, rasanya nggak mau pulang, masih betah disini. Selepas jumatan di sekitar hotel, kami pun menuju Colombo. Perjalanan dari bentota menuju Colombo juga sekitar 3 jam. Karena sudah booking jauh – jauh hari untuk bisa dinner di Ministry of Crab, restoran dengan menu kepiting yang terkenal di Colombo, dari Bentota kami hanya singgah lunch terus langsung menuju hotel biar bisa check in , naro koper dan menuju restoran.

IMG_0079

Kotu, makanan khas Sri Lanka

IMG_0089

Menunggu restoran MOC dibuka

IMG_0105

Interior restoran

Untuk makan disini, wajib booking terlebih dahulu, karena sejak menjelang restoran dibuka, orang – orang sudah antri, kemudian bila nama kita sudah terdaftar, baru kita boleh masuk. Kalau belum booking, kecil kemungkinan bisa go show kecuali ada orang cancel tiba – tiba.

IMG_0092

Karena masih jam 6 sore dan belum terlalu lapar, kami hanya memesan sedikit. Ternyata emang rasanya juara, kepitingnya terasa manis dan fresh dengan bumbu yang pas. Yang jelas, harganya lebih murah dibanding kepiting Indonesia. Wajib dicoba kalo ke Colombo.

IMG_0096

Garlic Chilli Crab, finger licking good.

Day 7 – 31 December 2016

Colombo

Cuma sehari disini rasanya masih kurang. Agenda hari terakhir adalah silaturahmi, dimulai dengan temen SMP suami yang mengunjungi kami di hotel. Kemudian lanjut makan siang bersama kenalan keluarga suami yang sudah tinggal di Colombo lebih dari 20 tahun diakhiri nostalgia mengunjungi KBRI dan sekolah suami di Colombo International School. Duuuh belum puas rasanya jalan – jalan di Colombo, suatu saat saya harus balik lagi kesini. Colombo……I want more! 🙂

IMG_0694

Salah satu teman SMP suami

IMG_0693

Berfoto di KBRI Colombo

IMG_0695

Nostalgia SMP (walau cuma dipagar, karena hari libur)

IMG_0130

Last crab before heading to airport, super yummy!

Jalan – jalan ke Malang

DSC00659

Pengen cerita tentang jalan – jalan ke Malang yang katanya bagus buat wisata keluarga. Semakin banyak browsing, makin lama makin minat banget kesana. Akhirnya mulai deh hunting tiket. Untuk berangkat, kita pake Citilink dapet harga perorang sekitar 500an, berangkat dari Halim PK. Sedangkan pulangnya, kita memilih Sriwijaya yang punya banyak pilihan jam terbangnya, walau turunnya di Soekarno Hatta bukan Halim PK. Tiket pulang dapat harga 700rb,lebih murah dari Citilink yang hanya sekali terbang dari Malang dengan harga 1,5jt/orang.

Di Batu Malang, sebenarnya banyak hotel dan Villa dengan pemandangan bagus. Namun, dengan pertimbangan fasilitas hotel yang lengkap serta adanya perkebunan Apel, maka pilihan kami jatuh pada Hotel Kusuma Agrowisata. Karena kami juga mengajak orangtua, maka kami memilih villa/cottage yang memiliki 2 kamar tidur dan 2 kamar mandi dalam. Fasilitas yang didapat antara lain : sarapan dan memetik buah di perkebunan apel atau jambu (pilih salah satu). Ada fasilitas waterpark dengan harga 30rb/orang. Untuk memudahkan transportasi, kami juga menyewa mobil Innova plus supir dengan harga yang relatif murah dibanding sewa di Jakarta, hanya 500rb/24jam. Diluar bensin yang hanya kami isi sekali sebanyak 300rb untuk pemakaian 3 hari.Selain itu, kita juga harus menanggung uang makan supir. Rata – rata sih sekali makan di sini 30rb-an.

Hotel Kusuma ini, terletak kira – kira 1 jam lebih dari bandara Abdul Rahman Saleh. Lokasi nya yang dipuncak memiliki pemandangan gunung yang indah banget. Air masih terasa dingin, udara pun sejuk.Cuma memang rada jauh aja dari Malang yang macet, jadi kalau udah di Batu males turun ke bawah (baca : Malang). Hari pertama, begitu sampai di bandara kami sudah dijemput oleh pak Budi, driver sewaan kami. Pesawat yang sempat delay karena Jokowi juga mau terbang, plus kabut saat mau landing bikin makin siang aja kita mendarat, jadi sudah hampir makan siang. Langsung dibawa ke Rawon yang terkenal di Malang, Rawon Nguling. Pesen Rawon Buntut sama pecel. IMHO rasanya standar aja, sesuai sama harganya. Lanjut dari sini, kita menuju resto legendaris Toko Oen. Menu disini ditulis dengan bahasa Belanda. Pengunjung Belanda yang datang untuk bernostalgia juga banyak, sambil melihat – lihat foto Malang jaman dahulu yang dibingkai di pigura besar di dinding restoran. Kami pesan steak yang pake toping telor ceplok (85rb), Kroket (40rb), aneka eskrim (35rb-an), plus sop buntut buat mama yang baru bergabung dari Blitar. Rasa berbanding harga dan tempat : ya….bolehlah 🙂

Toko Oen

Karena hari udah makin siang, kami memutuskan untuk langsung ke hotel. Tapi mampir dulu di toko oleh – oleh Wicaksono. Tokonya mblusuk di tengah komplek perumahan, tapi isinya lengkap dan bikin kalap. Jual aneka kripik, krupuk, minuman, sambel juga getuk instan. Gak beli terlalu banyak kripik nangka dan kentangnya, sampe Abu Dhabi baru dicoba ternyata enaaaaak banget. Nyesel gak beli banyak 🙁

Toko oleh - oleh Wicaksono (semua enaaak)

Toko oleh – oleh Wicaksono (semua enaaak)


Villa kami di Kusuma Agrowisata

Villa kami di Kusuma Agrowisata

View depan Villa

View depan Villa

Sampe hotel, senang banget begitu liat dapet villa yang lokasi nya depan waterpark dan samping kebun apel. Pokoknya pemandangannya kece banget. Setelah istirahat, malemnya kita ke Batu Night Spectacular. Tempat kayak pasar malam dengan plus taman lampion. Taman lampionnya bagus dan cocok jadi lokasi foto yang cantik. Gak sedikit yang niat bawa tripod dan puas – puasin foto di setiap titik. Iseng nyoba sepeda udara yang ngelilingin taman yang lumayan luas, hadeuh dasarnya penakut, sepanjang naik sepeda muka lurus kedepan, jantung dag dig dug takut, padahal pemandangan Batu di malam hari emang spektakular. Hampir mirip Dago.Tadinya mau dinner di Bakso Presiden Malang, tapi nyobain bakso di foodcourt BNS ternyata juga enaaaak banget. Jadi batal deh turun ke Malang karena udah kenyang.

Taman Lampion Batu Night Spectacular

Taman Lampion Batu Night Spectacular

IMG_5023

Batu Night Spectacular

Batu Night Spectacular

DSC00636

DSC00632

Besok paginya, kita sarapan di area hotel di restoran Hortensia. Cerita sarapan, karena suka banget view pegunungan depan restoran yang bagus banget, untuk makanan di resto sih buat saya cuma dapet nilai 6 deh. Sekedar pengganjal perut laper aja. Selesai sarapan, kami sempatkan menikmati fasilitas hotel sekaligus mengajak anak – anak merasakan petik apel langsung dari pohonnya.

View saat sarapan, indah banget

View saat sarapan, indah banget

IMG_5051

Di perkebunan apel

Di perkebunan apel


Pagi ini, tujuan kita adalah Batu Secret Zoo. Antrian tiketnya yang panjang banget sempat bikin goyah iman, sampe akhirnya saya nanya mas – mas dibelakang, bagus gak sih mas Zoo nya? Wah…bagus banget mba. Apanya yang bagus kata saya, hewannya tuh unik mba, luas banget lagi didalem, banyak tempat main anak. Sempet masih kurang percaya dan pengen ganti tujuan aja jalan – jalan ke Malang, tapi masa udah jauh – jauh kesini gak masuk. Terus gak sengaja mata baca tulisan di spanduk, untuk debit BCA bisa beli tiket di kantor Marketing. Ya ampun bilang kek dari tadi, udah ngantri 1/2 jam baru baca. Ternyata selain lebih cepet, pake debit BCA juga diskon 20%. Lumayan banget. Harga tiket 75rb. Which is super worth it menurut saya.

DSC00696

DSC00694

IMG_5076

IMG_5072

DSC00689

DSC00699

IMG_5215

Masuk ke Zoo, perasaan yang capek abis ngantri dan cuaca yang mulai panas mulai berganti menjadi ceria saat melihat area zoo yang bersih, hewan – hewan yang unik dan sehat, juga area yang tertata rapih. Setelah 10 menit jalan, saya liat spanduk e-bike dengan harga 100rb/3 jam. Suami langsung minat dan sewa 2 e-bike. Satu buat papa, satu buat saya yang lagi sakit pinggang. E-bike ini juga worth it banget dan amat sangat saya sarankan untuk sewa ini sebelum pinggang copot naik ke Zoo yang makin lama makin nanjak. Jadi, secret Zoo ini konsepnya kebun binatang yang bisa ditempuh dengan jalan kaki karena lokasi kandangnya berurutan tidak seperti ragunan yang jaraknya berjauhan. Masing – masing area dibagi berdasar jenis hewan. Dipuncak zoo ada waterpark, foodcourt, mesjid dan area bermain anak – anak. Oh iya yang mau nginep lebih deket dengan zoo ada hotel namanya Pohon Inn. Kesimpulan, BSZ ini bagus banget bikin anak dan ortu happy, musti seharian disini baru puas.Di sebelah Zoo ada musium satwa, saking teparnya kami nggak sanggup masuk musium, cuma foto di depannya karena gedung musiumnya unik dan megah.Selesai dari zoo, untuk mengisi perut yang sudah kelaperan kami memutuskan untuk makan di restoran berputar Jungle Fast Food. Kalo ditanya rasa, biasa banget mendingan makan bakso malang pinggir jalan 🙂

Bakso Malang Pinggir Jalan

Bakso Malang Pinggir Jalan

Bakso Malang ekstra bakso goreng. Supeeer banget.

Bakso Malang ekstra bakso goreng. Supeeer banget.

Malamnya kami mengunjungi Mesum Angkut, museum aneka transportasi dari berbagai dunia yang digabung dengan pasar apung. Jam buka mulai 12.00 – 20.00. Tiket masuk per orang 60rb. Museum yang memiliki 3 tingkat ini ternyata luas banget, disarankan minimal siapkan waktu 4 jam jika ingin puas, karena lagi – lagi museum ini kereeen. Seneng deh kalo makin banyak tempat wisata di Indonesia yang bisa diatur dengan rapih, bersih dan modern.

DSC00786

DSC00757

DSC00743

Museum Angkut -  Batu, Malang

Museum Angkut – Batu, Malang

Museum Angkut - Batu, Malang

Museum Angkut – Batu, Malang

IMG_5105

IMG_5132

IMG_5133

IMG_5134

Museum Angkut - Batu Malang

Museum Angkut – Batu Malang

IMG_5130

Museum Angkut - Batu, Malang

Museum Angkut – Batu, Malang

Museum Angkut - Batu, Malang

Museum Angkut – Batu, Malang

Hari terakhir di Batu kami putuskan untuk mengunjungi air terjun Coban Rondo. Lokasinya sedikit naik keatas lagi dari hotel Kusuma Agrowisata. Lagi – lagi saya dibuat kagum dengan kesiapan pengelola air terjun ini sebagai tujuan wisata dan perkemahan. Untuk masuk ke air terjun ini, kita harus bayar tiket mobil 5000, sedangkan perorang dikenakan biaya 15rb. Lahan parkir cukup luas, dan kita nggak harus mendaki terlalu jauh dari lokasi parkir. Jalan menuju air terjun juga bisa dilalui oleh stroller dan kursi roda. Kebetulan Hakeem pake stroller sementara papa pake kursi roda. Dua2nya cukup mudah untuk naik keatas dan menikmati indahnya air terjun.Sampai jumpa lagi Malang, kamu mempesona!

DSC00795

DSC00807

Air Terjun Coban Rondo - Batu, Malang

Air Terjun Coban Rondo – Batu, Malang