Jalan – jalan ke Sri Lanka

IMG_0062.JPG

Liburan akhir tahun kali ini, kami memutuskan untuk pergi ke Sri Lanka. Kenapa Sri Lanka? Karena suami tersayang pernah tinggal disana waktu SMP, dan saya penasaran kayak apa sih negaranya. Perasaan semangat liburan, dimulai dengan browsing tiket terus mulai nonton vlog orang – orang yang udah pernah ke Sri Lanka. Makin nggak sabar banget, karena liat pemandangannya yang bagus kayak Indonesia, ada pantai dan area puncak yang sejuk. Yang pengen liat bagusnya Sri Lanka, vlog yang saya suka bisa di search : 240 days in Sri Lanka (Feras Awad), FunForLouis, dan satu lagi vlogger Indonesia rachgoddard. Kalau blog : Where is Sharon, dia membahas detail tentang 3 minggu perjalanannya di SL dengan 2 anak.

Oke, udah nggak sabar nih pengen cerita hal seru apa saja yang saya liat dan lakukan di Sri Lanka.

Day 1 – 25 December 2016

Perjalanan ke SL menempuh waktu 4 jam dari Abu Dhabi (AD), dengan dijemput supir dari travel agent yang sudah kami pesan, kami menuju hotel Kingsbury. Airport ke hotel ditempuh selama 1 jam.  Hotelnya terletak di pinggir pantai, juga dekat dengan Dutch Hospital Precinct (Rumah Sakit peninggalan Belanda yang diubah jadi tempat nongkrong kayak di Kemang, ada restoran, toko baju, bahkan tempat spa). Karena kami sampai sudah menjelang malam, jadi nggak bisa pergi jauh – jauh. Ditambah saat itu hari natal, dijalanan penuh ramai orang yang berjalan bersama keluarga (belangkangan saya baru tau kalo dipinggir pantai itu ada pohon natal tertinggi di dunia).

Day 2 – 26 December 2016

Pagi ini kami menuju Nuwara Eliya, area perkebunan teh di puncak pegunungan yang tinggi, kalau pernah baca teh merk Dilmah yang terkenal itu, ya dari Sri Lanka itu asalnya. Perjalanan dari Colombo ke Nuwara Eliya normalnya memakan waktu 6 jam. Di tengah jalan supir mengajak kami mengunjungi museum sekaligus toko perhiasan yang menjual aneka batu khas SL. Kami disuguhi video cara mendapatkan aneka batu berharga tersebut, yang bila menggunakan cara tradisional, memang cukup rumit, makanya harganya lumayan mahal. Setelah itu, supir mengajak ke spice shop. Pikiran saya, Cuma toko biasa yang jual aneka bumbu dapur. Ternyata, kami diajak keliling kebun aneka tumbuhan obat seperti lada, lidah buaya, kayu manis, cengkeh, cendana sampai vanilla. Masing – masing tanaman,  diceritain khasiat dan cara konsumsinya. Ternyata yang dimaksud spice shop itu adalah tumbuhan alami yang diolah jadi produk baik untuk kesehatan atau kecantikan, istilah mereka disebutnya Ayurveda. Setelah keliling kebun, kami diajak ke tokonya. Bilangnya nggak maksa, tapi dia main ambil – ambil aja produk yang menurut dia saya terlihat tertarik, main taro aja di kasir, padahal harga nggak tercantum, dan dia nyerocos terus. Akhirnya saya tanya, berapa total? Ternyata nggak murah, pasti udah jadi komersil banget, tambah lagi pasti supir juga dapet komisi nih. Yaudah, kata suami nggak papa, coba siapa tau bagus.

IMG_9741

Aneka tanaman obat keluarga di Spice Shop

Akhirnya setelah melalui jalanan yang meliuk – liuk panjaaaaaang banget, magrib kami baru sampai di The Grand Hotel. Hotelnya cantik banget, lampu – lampu menghiasi ditambah alunan piano yang syahdu menambah kesan romantis. Sayangnya ada bagian hotel yang tidak ada liftnya, jadi kalo butuh lift, pastikan saat booking minta yang ada akses lift nya.

KRAM2588

The Grand Hotel – Nuwara Eliya

 

Day 3 – 27 December 2016

FKZO0303

Lapis legit special dibawa khusus untuk birthday cake

Pagi yang indah, alhamdulillah birthday tahun ini bisa ada di tempat baru, sengaja bawa lapis legit hadiah bday dari kakak sepupu yang tinggal di Dubai biar gak usah beli cake lagi , hehehe. Dari jendela kamar yang terbuka (iya nggak ada AC di hotel ini, jadi anak – anak tidur pake singlet, jendela dibuka lebar) saya liat hujan turun rintik – rintik, romantis. Tujuan wisata kami hari ini adalah mengunjungi Lake Gregory, Ambewela Farm dan Mlesna Tea Castle.

Lake Gregory

Tiket masuk nggak gratis tapi bisa ditawar. Danau dengan pemandangan bukit – bukit ini menyediakan taman untuk duduk santai, ada playground juga dan kapal bebek untuk killing danau. Kami Cuma foto – foto sebentar aja, karena masih gerimis.

IMG_9817

Gerimis di Lake Gregory

IMG_9783

Ambewela Farm

IMG_9829

Pemandangan di sekeliling farm, sejuuuk

Dari Nuwara Eliya kesini, sekitar 1 jam. Sepanjang jalan pemandangan di kanan kiri bukit – bukit hijau perkebunan teh, sejuuuuk banget. Banyak villa dan hotel – hotel, namun sayangnya rumah warga disepanjang jalan terlihat timpang karena mereka masih hidup amat sederhana. Banyak warga yang masih belum memakai alas kaki, juga sedikit sekali kendaraan Pribadi. Hanya bajaj yang banyak saya lihat terparkir dihalaman rumah. Iya bener bajaj yang roda 3 itu, hehehe. Untuk bepergian, masyarakat mengandalkan bus dan kereta. Iya dipuncak gunung pun ada kereta disini.

IMG_9853

Sapi di Ambewela Farm

Jalanan masih berkabut pagi itu, tiba – tiba dikejauhan terlihat kumpulan sapi – sapi besar yang sedang merumput, anak – anak seneng banget lihatnya. Sayangnya karena berkabut, nggak bisa difoto Cuma keliatan buntelan coklat diantara kabut putih hehehe. Nggak lama, kami pun sampai di Ambewela farm. Kami sempat bingung waktu supir hanya mengantar sampai gerbang masuk, karena dari jauh hanya terlihat 3 bangunan panjang di tengah bukit. Setelah dekat, baru terlihat bangunan seperti Gudang panjang tempat para sapi sedang makan, bangunan lainnya ternyata tenpat pengolahan susu segar, keju dan ada restoran kecilnya. Ada satu hal yang saya ngerasa lucu, saat itu saya pake gamis model syar’I , biasa emak ganjen pengen terlihat kece kalo difoto, tapi jadinya sepanjang jalan, orang – orang jadi ngeliatin saya sambil senyum senyum ngliatin jilbab saya yang panjang terurai. Kali dipikirnya, ini orang ke peternakan aja pake gaun, hahaha maklum cyiiin mau pemotretan di bukit 😀

IMG_9858

Jajan susu segar dan Fish Roll

Mlesna Tea Castle

IMG_9911

Mlesna Tea Castle

IMG_9905

Devon Falls di sebrang Mlesna Tea Castle

Perjalanan dari hotel ke Mlesna Tea Castle juga memakan waktu hampir sejam. Sebenernya nggak semua tempat yang kita kunjungin hasil ajakan si supir merangkap guide ini, karena dari rumah kita juga sudah buat itinerary sendiri tempat – tempat yang mau kita datangin. Nah ditengah jalan, kadang si supir nanya dengan sopan, mau lihat ini nggak misalnya, karena mereka akan dapat tips kalau kita belanja, atau dapat makan gratis kalau di restoran. Mlesna ini hasil pilihan kami sendiri, lokasinya dekat dengan air terjun Devon. Bangunan puri megah dengan teko raksasa menyambut kami. Di dalam ada restoran kecil, toko aneka jenis teh dan mini museum yang sepi karena kami saat kami kesana sudah sore. Mata emak – emak ini langsung melek liat aneka teh dalam kemasan yang cantik – cantik. Ada teh hijau, teh melati, teh sirsak, dll. Selesai borong teh, nggak lupa kami nyicipin aneka minuman teh ditemani mini donat dan éclair, yang surprisingly enak, sampe beli ekstra buat dibungkus buat ngemil di hotel nanti.

IMG_9902

Berpose dulu sebelum kembali ke hotel

IMG_9898

Masih gerimis di luar, enaknya minum teh hangat

Day 4 – 28 December 2016

Pagi ini gerimis masih menyambut kami, rasanya masih pengen tarik selimut tapi kami harus berangkat pagi menuju Bentota beach, yang katanya 6 jam perjalanan lagi turun ke bawah. Oooh noooo….masih kebayang mualnya saat perjalanan Colombo – Nuwara Eliya, sekarang harus siap mual lagi. Oh iya, sarapan di Grand Hotel ini, semua enak. Banyak banget varian makanan, buahnya juga seger – seger kayak di Indonesia. Saya yang jarang makan papaya di UAE (mehong boo, dibanding papaya di Indonesia), puas makan papaya selama di Srilanka ini.

IMG_9775

Sarapan di The Grand Hotel

Udawalawe National Park

IMG_9941

Jeep khusus untuk safari

Di Srilanka ada beberapa National Park yang modelnya kita naik jeep besar per family/group dibawa ke padang luas dimana hewan dilepas dialam bebas, bukan dikandang atau pagar seperti di Taman Safari, walau jumlah hewan yang bisa kita temui pun terbatas. Sengaja kami memilih Udawalawe karena searah dengan tujuan kami ke Bentota Beach.

DTZA9441

Burung Merak di alam bebas

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Nuwara Eliya, kami pun sampai di Udawalawe. Kami pindah ke Jeep besar yang khusus disediakan oleh pihak taman, ditemani oleh seorang pemandu yang sudah berpengalaman. Mata si pemandu ini sudah terlatih banget, bisa melihat adanya monyet dari jarak jauh walau yang keliatan di awal hanya ujung buntutnya, jeep pun beberapa kali mundur karena tiba – tiba pemandu bilang dia melihat hewan. Canggih! Hewan yang bisa kami temui di taman seperti, aneka burung termasuk burung merak, monyet, buaya dan gajah.

KQGW2786

Gajah sedang berusaha meraih tangkai pohon untuk makan siangnya

Keseluruhan, pengalaman melihat langsung hewan liar di alam bebas dengan pemandangan yang indah cukup berkesan buat saya dan anak – anak 🙂

IMG_0683

Rombongan peserta safari

XKSY4081

Family picture di depan jeep yang membawa kami keliling taman

IMG_0688

Udawalawe National Park

 

Day 5 – 29 December 2016

Avani Resort – Bentota Beach

Walaupun sudah booking lebih dari sebulan sebelumnya, kebanyakan hotel di area Bentota Beach sudah penuh. Saya pun sampai berapa kali mencoba beberapa situs selain booking.com dan Agoda untuk bisa stay di Avani, karena selain reviewnya yang cukup bagus di Tripadvisor, akses langsungnya ke pantai bikin saya makin pengen nginep disini.

Kamarnya luas, pemandangan depan kamar pun langsung ke kolam renang dan deretan pohon kelapa di pinggir pantai, duh bikin betah banget buat santai – santai.

IMG_9998

View depan kamar. masya Allah

Hari kedua disini, kami mulai dengan mengunjungi tempat penangkaran penyu. Ini adalah kali pertama kami mengunjungi TPP, baru tau kalo ada beberapa jenis penyu dan dibutuhkan perawatan yang berbeda untuk aneka jenis penyu. Baru tau juga kalo ternyata penyu itu berat! 😀

IMG_0682

Walaupun terlihat kecil ternyata berat loh.

Kemudian kami menuju Madu River untuk mencoba naik perahu menyusuri sungai Madu. Sebenernya saya takut naik perahu, apalagi liat sungainya luwaaaaas banget. Tapi karena penasaran, yaudahlah coba aja. Setelah tawar menawar, kami pun diajak naik perahu, dimulai dari menyusuri hutan bakau, lanjut menyusuri sungai, terlihat ada gubuk ditengah sungai yang ternyata jualan es kelapa. Tapi kami nggak minat, karena kelapa di Srilanka jenisnya kelapa kuning yang menurut saya nggak seger dan manis dibanding kelapa hijau. Kemudian kami menepi, untuk coba fish massage. Aduduh geli bangeeeet, secara ikannya gede – gede, kebayang kan mulut ikan yang mangap – mangap dikaki kita. Trus lanjut lagi kita diajak ke tempat pengolahan kayu manis secara tradisional, setelah diberi sedikit penjelasan tentang khasiat kayu manis, kami ditawari untuk membeli kayu manis dan minyaknya. Ditengah perjalanan pulang, hujanpun turun, seru bangeeet ngerasain ujan – ujanan ditengah sungai. Walau basah kuyup, tapi hati bahagia 🙂

IMG_0009

IMG_0687

Darren & papa-nya 🙂

IMG_0686

Membelah sungai Madu

IMG_0010

Fish massage dengan ikan mas koki, geliiii!

Day 6 – 30 December 2016

Hari terakhir di bentota, rasanya nggak mau pulang, masih betah disini. Selepas jumatan di sekitar hotel, kami pun menuju Colombo. Perjalanan dari bentota menuju Colombo juga sekitar 3 jam. Karena sudah booking jauh – jauh hari untuk bisa dinner di Ministry of Crab, restoran dengan menu kepiting yang terkenal di Colombo, dari Bentota kami hanya singgah lunch terus langsung menuju hotel biar bisa check in , naro koper dan menuju restoran.

IMG_0079

Kotu, makanan khas Sri Lanka

IMG_0089

Menunggu restoran MOC dibuka

IMG_0105

Interior restoran

Untuk makan disini, wajib booking terlebih dahulu, karena sejak menjelang restoran dibuka, orang – orang sudah antri, kemudian bila nama kita sudah terdaftar, baru kita boleh masuk. Kalau belum booking, kecil kemungkinan bisa go show kecuali ada orang cancel tiba – tiba.

IMG_0092

Karena masih jam 6 sore dan belum terlalu lapar, kami hanya memesan sedikit. Ternyata emang rasanya juara, kepitingnya terasa manis dan fresh dengan bumbu yang pas. Yang jelas, harganya lebih murah dibanding kepiting Indonesia. Wajib dicoba kalo ke Colombo.

IMG_0096

Garlic Chilli Crab, finger licking good.

Day 7 – 31 December 2016

Colombo

Cuma sehari disini rasanya masih kurang. Agenda hari terakhir adalah silaturahmi, dimulai dengan temen SMP suami yang mengunjungi kami di hotel. Kemudian lanjut makan siang bersama kenalan keluarga suami yang sudah tinggal di Colombo lebih dari 20 tahun diakhiri nostalgia mengunjungi KBRI dan sekolah suami di Colombo International School. Duuuh belum puas rasanya jalan – jalan di Colombo, suatu saat saya harus balik lagi kesini. Colombo……I want more! 🙂

IMG_0694

Salah satu teman SMP suami

IMG_0693

Berfoto di KBRI Colombo

IMG_0695

Nostalgia SMP (walau cuma dipagar, karena hari libur)

IMG_0130

Last crab before heading to airport, super yummy!

UMROH BACKPACKER

IMG_2460
Istilah umrah backpacker biasanya digunakan untuk orang yang pergi umrah tanpa bergabung dengan group dari travel agent. Jadi dengan bermodal visa sendiri, beli tiket pesawat dan booking hotel sendiri sudah bisa disebut umrah backpacker atau umrah mandiri istilah halusnya. Umrah backpacker nggak harus “menggembel” dengan modal tiket pesawat diskonan dan hotel abal – abal bahkan tidur di masjid. Karena satu kondisi, saya jadi mendapatkan pengalaman berharga ini : mengurus dan menjalani Umrah Mandiri.

Cerita ini berdasar pengalaman dari sisi travel bukan dari sisi spiritual. Saya akan berbagi mengenai tips dan persiapan umrah mandiri TANPA IKUT JASA TRAVEL. Untuk sisi doa dan ibadah lain, silakan cari atau tanya kepada yang lebih berpengalaman. Bila ada salah dan kurang berkenan, silakan dikoreksi dengan baik. Yang tidak suka, silakan buat tulisan sendiri ☺

Diawali dengan ajakan suami untuk umroh, saya meminta bagaimana kalau ajak orangtua kami sekalian. Jadilah saya tanya – tanya ke biro travel, namun karena waktu yang tersisa tinggal 6 bulan lagi ternyata kebanyakan sudah waiting list sampai 2017 atau bila ada pun harga sudah diatas USD 2000. Sementara kami lebih menginginkan agar orangtua bisa ibadah bersama kami dengan penginapan yang sama. Pilihan terakhir kami putuskan untuk beli tiket pesawat dan booking hotel sendiri, tinggal cari – cari bagaimana cara buat visanya nih.

CERITA VISA
Setelah mencari dan ngobrol sana sini akhirnya Allah mempertemukan saya dengan salah satu pembaca blog ini, yang kebetulan punya jasa travel umrah. Di Abu Dhabi/UAE kalau mau umrah mandiri gampang banget, tinggal ke travel agent kasih paspor + kartu vaksin + bukti booking hotel + kopi tiket pesawat (kalau naik mobil saya belum tahu) + uang AED300 , 3 – 7 hari sudah selesai. Kalau di Indonesia, NGGAK SEMUA travel agent umroh mau ngebantu bikin visa umrah mandiri. Saya nemu di FB ada fanpage tentang umrah mandiri, setelah saya kirim pesan ke dia, eh malah nakut- nakutin masalah tiket. Katanya ada kelas tertentu yang bisa direject dan bermasalah. Intinya dia mau bantu kalo saya ikut rombongan dia gitulah. Itu sih bukan umrah mandiri ya….
Bagi kawan – kawan yang berdomisili di UAE atau mungkin negara lain dan ingin janjian umrah dengan orangtua atau kerabat lain, saya rekomendasikan :

AN NAAFI Travel
Contact Person : Mbak Endang
No HP : +62 811 921 278

Silakan tanya – tanya langsung dengan mbak Endang, insyaAllah beliau ramah dan sangat membantu mulai dari sebelum, selama dan sampai umrah selesai.

Syarat untuk bikin visa umrah adalah :
– Paspor asli dan fotokopi
– Buku kuning (buku vaksin)
– Pasfoto background putih
– Fotokopi tiket pesawat
– Fotokopi bookingan hotel
– Jadwal acara / Itinerary selama di Saudi

Karena kami berdelapan, biar nggak repot kami juga menyewa transportasi sekalian mutawwif yang bisa mendampingi kami selama ibadah dan wisata ziarah selama di tanah suci. Alhamdulillah visa keluar setelah 2 minggu sistem umrah dibuka oleh pemerintah Saudi. Kami juga dapat name tag dari biro umrah, biar aman dan kami dianggap bagian dari rombongan. Hal ini untuk mencegah kami dianggap sebagai calon tenaga kerja yang menyalahgunakan visa umrah untuk mencari nafkah di tanah suci.

CERITA PESAWAT
Pilihan maskapai penerbangan yang kami pakai, jatuh ke Saudi Airlines dengan pertimbangan waktu yang diinginkan: suami ingin berangkat ke Madinah sepulangnya dari kantor Kamis malam dan pulang dari Jeddah sore setelah check-out –> hanya Saudi Airlines yang memiliki jadwal tersebut. Jika menggunakan Etihad, suami harus ambil cuti Kamis, dan di kantornya cuti Kamis berarti sama dengan mengambil Kamis + Jumat + Sabtu (weekend dihitung), jadi berkurang 2 hari cuti nya 🙁

Kami memilih untuk memulai ibadah dari Madinah. Dari Abu Dhabi ke Madinah, ada direct flight, dan kami langsung beli di bulan Juni mumpung harga “SuperSaver” (total 2 dewasa + 3 anak = USD 1400).

Dari Jakarta juga ada direct flight ke Madinah, namun tidak ada di hari dan waktu yang sama arrival-nya dengan kami. Petugas Saudi Airlines di Abu Dhabi menyarankan agar kami mengambil rute Jakarta – Jeddah – Madinah. Dengan catatan, Jakarta – Jeddah keluar imigrasi dan Jeddah – Madinah pindah ke terminal domestik. Setelah melihat print-out booking pesawat, terlihat bahwa arrival international Jakarta-Jeddah di Terminal S (Terminal Saudia) dan departure domestik Jeddah-Madinah juga di Terminal S, jadi kita pikir ok-ok saja untuk di-confirm tiketnya.

Ternyata…… landing dari Jakarta memang di Terminal S, namun ketika turun dari pesawat, dipisah antara visa umroh dan non-umroh untuk naik bus-nya. Jadilah orangtua digiring ke Airport Khusus HAJI/UMRAH. Padahal mereka harus ke Madinah dari Terminal S ini (mungkin jika bisa dijelaskan dgn bahasa Arab, petugas penggiring penumpang ke bus-nya mau mengerti bahwa tidak make sense mereka digiring ke Terminal Haji kemudian balik ke Terminal S ini lagi).

Untuk kembali ke Terminal S dari Terminal Haji itu jauuuuuuh. Mama Papa terpaksa harus bayar taksi SAR300, itupun dibantu petugas bandara yang orang Indonesia dan bisa bahasa Arab. Maafin kami ya….Untungnya mereka sudah kami wanti – wanti tidak membawa bagasi. Jadi mereka hanya bawa koper kabin dan bisa langsung cari taksi.

Cerita kami dari Abu Dhabi menggunakan Saudi Airlines cukup puas. Pesawat bersih, pramugarinya ada 2 orang yang Indonesia. Makanan menurut saya yang lidah Indonesia lebih ada rasa dibanding makanan dari Etihad juga Emirates. Walau cuma 3 jam penerbangan, anak – anak juga dapat tas kecil Toy Story berisi buku aktivitas dan pinsil warna, nggak lupa makanannya juga child meal. Iam impressed ☺

Toy Story Bag dari Saudi Airlines

Toy Story Bag dari Saudi Airlines

CERITA UMRAH – MADINAH
Kami menginap di hotel Dar Al Iman Intercontinental, yang mempunyai pintu belakang langsung ke Pintu16 dari Masjid Nabawi. Alhamdulillah hotelnya nyaman dan strategis. Kami bisa tiap saat tinggal turun dan solat di masjid. Untuk makanan, ada restoran Indonesia tinggal nyebrang dua gedung dari hotel. Kalau kangen KFC, juga tinggal belok kanan 2 gedung. Di gedung sebelah ada supermarket Bin Dawood. Kami juga bawa rice cooker, jadi bisa masak nasi putih tinggal beli lauknya deh. Kalo mau lebih gampang lagi, bekel rendang, abon atau lauk kering aja, jadi nggak pusing cari makan. Apalagi kalau bawa orang tua yang sudah nggak kuat jalan jauh. Inilah bedanya umrah mandiri dengan umrah travel. Kalau ikut travel biasanya mereka sudah kerjasama dengan hotel atau restoran yang menyediakan makanan pagi siang malam.

Di depan hotel di Madinah

Di depan hotel di Madinah

Tips dari saya, kalau mau hemat ya bawa rice cooker, beras, indomie dan lauk kering. Selain hemat, nggak perlu pusing lagi cari makan, bisa lebih fokus ibadah. Sekali makan kalo beli di resto Indonesia bisa SAR 20. Kalau shawarma pinggir jalan cukup SAR 5. Kalau nasi biryani plus ikan rata – rata 25 – 30 saudi riyal.

Di bulan Desember ini, Madinah cukup dingin. Cuaca sekitar 15 derajat celcius. Silakan bawa jaket, sarung tangan dan kaos kaki. Buat orang yang gampang kentut, jangan khawatir. Cukup doa minta sama Allah biar gak gampang kentut, insyaAllah nggak kentut deh. Kalau masih kentut juga, selalu bawa botol aqua biar bisa wudhu di tong sampah dan gak harus ke toilet. Kalau solatnya dihalaman masjid sih gampang ke toilet, kalau udah masuk kedalam, rada susah buat keluar dan masuk lagi. Karena ratusan bahkan ribuan orang udah berjejer penuuuuh. Menurut saya toilet di negara Saudi kurang bersih. Ada sih showernya tapi toiletnya kebanyakan ada bercak bercak coklatnya dan baunya rada pesing. Tips : turunkan level kebersihan atau kenyamanan anda biar gak kecewa ☺. Selalu bawa botol aqua plus tissue roll.

Kami di halaman masjid Nabawi

Karena Desember termasuk bulan yang sejuk untuk umrah, maka banyak juga teman dan saudara dari Indonesia dan Abu Dhabi yang juga pergi umrah. Salah satunya guru TK Ziggy waktu di Nurul Fikri. Walau setahu saya mereka sudah berangkat duluan dari Indonesia, saya sempat menyelipkan dalam doa selepas subuh agar diberi kesempatan bertemu. MasyaAllah doa saya langsung dikabulkan, waktu saya mengantar anak – anak ke supermarket samping hotel tiba – tiba ada yang memanggil dan ternyata ibu Meta, guru Ziggy yang saya sebut namanya dalam doa. Allah Akbar!

Allah mempertemukan kami.

Allah mempertemukan kami.

Sempatkan ke Raudah, waktu itu saya dan mama kesana jam 8 pagi. Khusus wanita hanya boleh masuk selepas subuh sampai jam 10 pagi atau habis Isya sampai jam 23.30. Masuk melalui pintu 25, biasanya digilir. Kami menunggu di dalam masjid selama 10 menit, kemudian pintu kayu coklat dibuka, langsung menuju tanda peringatan yang digantung dalam berbagai bahasa, kami harus menunggu kembali selama kurang lebih 15 menit, bergantian dengan jemaah lain. Saya baca di internet biasanya akan dikelompokkan dengan asal jamaah untuk menghindari tergencetnya jamaah asia tenggara yang biasanya berbadan lebih kecil dari jamaah Turki atau Arab. Tapi kemarin, kami digabungkan saja. Sempat terjadi gencet-gencetan, tapi saya banyak- banyak istighfar dan doa agar dimudahkan. Alhamdulillah ada saja orang yang menolong dan memberi ruang untuk solat di Raudah. Selesai solat dan berdoa baiknya segera keluar agar bergantian dengan jamaah berikutnya. Jangan egois dan mementingkan diri sendiri.

Di Madinah, kami berkunjung ke Masjid Quba, baiknya sudah berwudhu dari hotel karena “Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian mendatangi masjid Quba & shalat di dalamnya, maka ia akan mendapatkan pahala umrah. [HR. ibnumajah No.1402]. Dan disarankan pagi agar sempat sholat dhuha dan bisa lanjut ziarah ke tempat lain. Setelah dari Masjid Quba, kami menuju Jabal Uhud. Untuk museum, ada Museum Asmaul Husna dan Museum Quran di area masjid Nabawi. Selebihnya kami pergunakan untuk perbanyak ibadah di masjid. Tips : Selalu sedia kantong kresek dan aqua kemana – mana, jadi tiap harus copot sendal gampang masukkin kantong, dan aqua untuk wudhu kalau batal ☺

Hakeem dan papa di Museum Asmaul Husna

Masjid Quba

Mama dan papa di Jabal Uhud.

Mama dan papa di Jabal Uhud.

CERITA MEKKAH
Dari Madinah ke Mekah kami naik mobil, dengan rencana mengambil miqat dari Bir Ali, sekitar 20 menit dari Madinah. Sebaiknya dari hotel sudah memakai pakaian Ihram. Jadi sesampai di Masjid Bir Ali, bisa langsung solat dan niat. Perjalanan dari Madinah menuju Mekkah sekitar 5 jam bila menggunakan mobil, dan lebih dari 5 jam bila menggunakan bis. Kami berhenti sekali untuk makan siang, tidak solat karena sudah di qashar di Bir Ali. Sampai di Mekkah kami langsung check in dan sholat maghrib.

Memakai ihram sebelum menuju Mekah

Memakai ihram sebelum menuju Mekah

Suasana di Mekkah berbeda dengan di Madinah. Kontur tanah Mekah yang dikelilingi gunung batu membuat suasana sedikit gelap ditambah tidak banyak pepohonan disekitar. Mendekati Masjid Al-Haram, mobil masuk ke terowongan yang tembus ke area lobi perkumpulan hotel tapi dari sisi bawah. Hati rasanya sudah campur aduk, antara sedih bahagia dan deg-degan. Kami menginap di Swissotel dengan kamar yang memiliki view ke arah Ka’bah, Maha Besar Allah!

View dari kamar, masya Allah.

View dari kamar, masya Allah.

Selepas maghrib, sudah ada beberapa orang yang menawarkan jasa dorong kursi roda untuk tawaf dan sa’i. Setelah disepakati harga perorang SAR 200. Tadinya mereka setuju untuk berkeliling bersama kami, tapi akhirnya mereka selesai duluan dan mengantarkan para kakek kembali ke hotel.

Tips : bila menggunakan kursi roda, titipkan duit pada bapak/ibu kita. Kalau perlu bawa hp untuk memudahkan komunikasi. Jelaskan lebih dahulu, apakah akan cukur atau gunting rambut saja selepas sa’i. Kalau gunting saja, baiknya bawa gunting kecil, biar nggak lupa menuntaskan rukun umrah. Kalau mau botak di salon, jangan lupa titip duitnya juga. Rata – rata botak di salon bawah clock tower cuma SAR15.

Setelah mendapat briefing doa dan prosedur tawaf sai, kami mulai jalan pelan – pelan. Tapi perjalanan dari Madinah ke Mekkah yang cukup melelahkan, membuat kami terpaksa sesekali berhenti mengumpulkan tenaga. Kalau nggak bawa anak, memang lebih enak tawaf di bawah, lebih dekat ke Ka’bah dan jarak juga tidak terlalu jauh.

Jam 11 malam akhirnya kami selesai menunaikan semua rukun umrah. Kami pun menuju foodcourt di mall dalam clock tower. Di lantai 3 katanya ada restoran Indonesia, ternyata si RM. Sate Priangan itu tutup. Tapi dibelakangnya ada juga catering Indonesia yang melayani group, kita boleh beli satu paket seharga SAR 30. Kalau makan ditempat boleh ambil nasi dan lauk pauk, ada buah juga dan minumnya boleh ambil air putih, teh atau kopi. Pilihan lain di foodcourt ada Hardee’s, KFC, Burger King, yang lainnya kebanyakan jual nasi biryani dengan lauk ikan bakar, ayam bakar atau daging kebab. Semua rata – rata SAR 30.

Kalau mau umrah lagi, miqat terdekat ada di Masjid Aisha (Masjid Tan’iim nama lainnya). Kalau mau kesana, ada pilihan transportasi bus atau taksi. Kalau bus katanya naik dari samping hotel Dar Al Tawhid, sekitar SAR 5 (kalau nggak salah). Sementara kalau naik taxi, kemarin kami dikasih harga 80 untuk bolak – balik dari hotel – Masjid Aisha – hotel lagi. Tapi karena kami liat memang jauh jaraknya, kami genapkan jadi 100.

Tan'im atau Masjid Aishah. Miqat terdekat dari Masjid Al Haram.

Tan’im atau Masjid Aisha. Miqat terdekat dari Masjid Al Haram.

Ziarah di Mekah, kami mengunjungi Jabal Tsur, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah. Cerita di balik semua Jabal itu, gugel sendiri ya ☺. Alhamdulillah kami dapat supir yang berpengalaman banget dan tau jalan selap selip menuju ketiga tempat tersebut. Karena menuju tempat tersebut semua penuh dan sesak, supir harus pandai mencari celah agar kami bisa turun lebih dekat dan nyaman. Kami juga sempat mengunjungi museum arsitektur 2 masjid : Masjid Nabawi dan Masjid Al Haram. Mampir juga di pabrik pengemasan air zamzam, tapi ternyata kemasan galon itu untuk dikonsumsi warga sekitar atau orang yang umroh bawa mobil. Karena kalau naik pesawat, ada kemasan air zam zam khusus yang dapat dibeli di airport nanti. Satu paspor bisa beli 1 dus isi 5 liter seharga SAR 9. Kembali ke hotel menjelang dhuhur, terowongan menuju hotel dan Masjid Al-Haram sudah ditutup polisi. Kami pun minta antar ke restoran, baiknya si supir, ia berinisiatif mengantar kami ke restoran Indonesia. Kami yang sudah lapar dan kangen masakan Indonesia pun setengah kalap pesan aneka makanan. Alhamdulillah semua terasa nikmat. Namanya restoran Aldamanhuri di daerah “Sit-tuun” (Area 60 maksudnya?)

Jabal Rahmah. Saat musim haji akan seperti gunung putih karena ditutupi oleh jemaah haji yang memakai ihram putih.

Jabal Rahmah. Saat musim haji akan seperti gunung putih karena ditutupi oleh jemaah haji yang memakai ihram putih.

Hari ini saya mendapat rejeki lagi dengan dipertemukannya dengan salah satu sahabat dari kelas Quran di Abu Dhabi sewaktu kami mengunjungi Museum Arsitektur Masjid, senangnya ☺

Wani, sahabat di Abu Dhabi.

Btw, bagi yang suka beli oleh – oleh atau suvenir, saya lebih menyarankan beli di Madinah, selain harga lebih murah dan banyak variasi, jadi di Mekah bisa lebih fokus ibadah dan save energy.

Akhirnya sampai lah di hari terakhir kami. Pesawat pulang sebenarnya jam 4 sore, tapi supir bilang amannya 5 jam sebelum keberangkatan sudah di bandara. Karena kalau lagi rame, pemeriksaan bisa panjang banget. Jadilah jam 10 pagi kami sudah check out, jam 12 sampai dibandara. Iya bandaranya ternyata jauuuuh banget. Sampai sana, check in lalu lanjut pemeriksaan. Laki – laki dan perempuan dipisah. Semua logam, jam tangan, HP, ikat pinggang, jaket harus dilepas. Bandaranya sendiri nggak terlalu besar, ini terminal yang khusus Saudia Airlines ya…..saya nggak tahu kalau terminal yang pesawat lain. Di aiport sini nggak ada restoran. Cuma ada Subway, Tim Horton, Baskin Robbins, sama satu caffe lupa namanya. Jadi, kalau bawa anak kecil baiknya bekal roti atau snack lain biar nggak kelaparan nunggu pesawat. Perjalanan menuju Abu Dhabi ditempuh selama 3 jam, akhirnya kami sampai dengan selamat kembali ke Abu Dhabi bersama orangtua kami. Alhamdulillah.

Semoga cerita ini dapat membantu dan mengilhami saudara saudari muslim untuk sampai ke tanah suci, insyaAllah. Yang butuh informasi lebih lanjut mengenai pembuatan visa umrah mandiri dan jasa mutawwif, silakan email saya di : widhi.s@gmail.com